TKN Jokowi-Ma’ruf Berharap Pembakaran Bendera Tauhid Tak Terulang 0 144

Jakarta, JokowiMaruf.Net – Juru Bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Arya Sinulingga, mengatakan pihaknya berharap peristiwa kontroversial seperti pembakaran bendera Tauhid, tak terulang lagi.

“Jangan sampai terulang lagi hal-hal kontroversial semacam ini,” kata Arya kepada wartawan pada Rabu (24/10/2018).

Namun, untuk menyikapi persoalan tersebut, pihak TKN menyerahkan semua pada kepolisian. Institusi penegak hukum, tentu akan melihatnya secara proporsional.

Termasuk juga dalam menduduki perkara ini, apakah bendera Tauhid ini identik dengan lambang HTI atau tidak. Jadi, biarkan kepolisian yang menanganinya.

“Kita serahkan semuanya kepada aparat kepolisian yang menangani permasalahan ini,” sambungnya.

Harapannya, masyarakat jangan mudah terpancing dan dapat menahan diri. Dengan begitu, kebersamaan dan kekeluargaan sebagai satu bangsa tak terganggu.

Dengan bersikap secara dewasa, maka persoalan semacam ini tentu bisa selesai secara baik-baik. Sekaligus menjadi pembelajaran untuk ke depannya.

Sementara itu Ketua Lakpesdam PBNU, Rumadi Ahmad menilai, anggota Banser memang agak ceroboh, tidak menghitung resiko yang akan muncul atas sikapnya.

“Tapi jangan terlarut dengan provokasi dan narasi Banser membakar kalimah tauhid. Bendera HTI dan kalimah tauhid itu dua hal yang berbeda,” ujar dia.

Menurutnya, memang sulit membedakan kedua hal itu. Serta, membutuhkan kecerdasan, bukan sekedar emosi saja. Maka itu, jangan sampai ini malah diprovokasi.

“Jangan-jangan HTI memang memancing Banser untuk marah,” ungkap Rumadi.

Sebab, ia mempertanyakan mengapa dalam peringatan Hari Santri malah ada bendera HTI berkibar. Kata dia, itu menjadi satu persoalan sendiri yang harus dicermati.

“Dan benar Banser marah, bendera HTI dibakar. Sebenarnya memang gak perlu dibakar sih. Cukup dilipat saja. Tapi ya sudah terlanjur,” sambungnya.

Menurut dia, bisa jadi ini adalah skenario HTI sendiri. Seperti membuat jebakan, khususnya ke pihak Banser. Supaya muncul rasa simpatik pada ormas tersebut.

Permintaan maaf pihak Banser pun tidak akan menjadi jalan keluar atas persoalan tersebut. Isu ini akan terus digoreng, bahkan Banser disebut menistakan agama.

“Lalu, Banser harus dibubarkan. Pelakunya harus dibawa ke penjara. Nanti akan terus dikatakan, Banser penista Islam dan sebagainya,” tambah Rumadi.

Ujung-ujungnya pasti akan ditarik pada persoalan pilpres. Di mana muncul persepsi supaya publik tak memilih calon yang didukung penista agama.

“Jadi, HTI sekarang di atas angin. Mereka akan mengelola emosi dan akan terus menggerakkan emosi massa, karena sudah ada yang terbakar,” ujar dia. [JMN/Tim]

(Dwi Badarmanto/Infopublik TKN)

Facebook Comments
Previous ArticleNext Article

Most Popular Topics